Mengenal Lebih Dekat Gaccha Football Academy: Dari Katapang Menyiapkan Pemain dan Karakter Anak

10-09-2026 17:24:52
Updated:  1 second ago
Mengenal Lebih Dekat Gaccha Football Academy: Dari Katapang Menyiapkan Pemain dan Karakter Anak

Gaccha Football Academy membina sekitar 80 pemain usia dini di Katapang, Kabupaten Bandung. Pembinaan tak hanya mengejar kemampuan teknik, tetapi juga membangun mental, disiplin, sportivitas, dan karakter pemain. Foto: @gacchafootballacademy.

KOMPETISIA.ID, JABAR — Anak-anak tidak seharusnya buru-buru dituntut menjadi juara. Mereka perlu menikmati bola lebih dulu. Berlari. Mencoba. Salah. Jatuh. Bangun lagi. Lalu mencoba sekali lagi.

Dari gagasan sederhana itulah Gaccha Football Academy membangun pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Bandung.

Akademi yang berdiri pada 6 Juni 2026 ini tidak sekadar ingin mencetak anak yang pandai menendang bola. Gaccha membawa misi membangun kemampuan teknik, pemahaman permainan, kondisi fisik, mental, sekaligus karakter pemain.

Pelatih Gaccha Football Academy, M. Horyu Dwi Chandra menjelaskan, pembinaan pemain muda harus dilihat sebagai proses panjang, bukan sekadar mengejar hasil pertandingan.

“Sepak bola usia dini bukan sekadar mengejar kemenangan. Anak harus menikmati permainan, berkembang melalui proses, kemudian belajar bertanding dengan karakter,” katanya melalui keterangan yang diberikan kepada redaksi kompetisia.id pada Kamis, 10 September 2026.

KLIK LINK INI UNTUK MENONTON TUROTIAL DAFTAR JJL 2026 MELALUI WEB KOMPETISIA.ID

Gaccha Football Academy kini membina sekitar 80 pemain yang mengikuti latihan secara rutin. Mereka dibagi berdasarkan kelompok usia dan tahap perkembangan.

Kelompok U6–U7 diarahkan untuk mengenal sepak bola sekaligus menikmati kegembiraan bermain. Kelompok U8–U9 mulai memasuki penguasaan teknik dasar.

Selanjutnya, U10–U11 mendapatkan pengembangan teknik dan pemahaman permainan. Sementara U12–U13 mulai diarahkan menuju persiapan kompetisi.

Komposisi kelompok usia aktif dapat disesuaikan dengan kondisi keanggotaan Gaccha.

Bukan Sekadar Mengejar Gol

Filosofi Gaccha terdengar sederhana, tetapi cukup menantang untuk dijalankan. “Bermain dengan gembira, berkembang melalui proses, dan bertanding dengan karakter,” sebutnya.

Di sini, anak didorong berani menguasai bola. Berani memainkan bola. Cepat mengambil keputusan. Aktif, kreatif dan disiplin. Kerja sama tim juga menjadi bagian penting.

Pemain diajarkan untuk menghormati pelatih, rekan, lawan dan perangkat pertandingan. Semangat pantang menyerah serta sportivitas menjadi nilai yang terus dibangun.

Horyu mengatakan, keberanian mengambil keputusan menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kemampuan teknis.

“Kami ingin anak berani memainkan bola, berani mengambil keputusan, dan tidak takut melakukan kesalahan selama mereka belajar dari proses tersebut.”

Karena itu, pola pembinaan Gaccha tidak langsung dimulai dari kompetisi.

Urutannya adalah, Fun → Foundation → Development → Competition → Performance.

Anak bersenang-senang lebih dulu. Kemudian membangun fondasi. Berkembang. Baru masuk ke kompetisi dan mengejar performa.

Bola Harus Menjadi Teman

Untuk kelompok U6–U12, latihan dirancang menyenangkan, aman dan tidak membebani anak dengan tuntutan kemenangan berlebihan.

Materinya bukan hanya menendang bola. Ada koordinasi tubuh, keseimbangan, kelincahan dan kemampuan motorik. Anak dikenalkan pada ball feeling dan ball mastery.

Teknik dasar seperti dribbling, passing, control dan shooting juga diberikan. Anak kemudian diajak bermain satu lawan satu maupun dalam kelompok kecil.

Metode small-sided games seperti 3v3, 4v4 dan 5v5 digunakan untuk membuat anak lebih banyak bersentuhan dengan bola sekaligus lebih sering mengambil keputusan.

Ada pula fun games agar latihan tidak berubah menjadi pekerjaan rumah yang membosankan.

Untuk U6–U8, frekuensi latihan dirancang dua kali seminggu dengan durasi 60–75 menit. Kelompok U9–U10 berlatih dua hingga tiga kali seminggu selama 75–90 menit.

U11–U12 mendapat latihan tiga kali seminggu selama sekitar 90 menit. Sedangkan U13 ke atas dirancang berlatih tiga hingga empat kali seminggu dengan durasi 90–120 menit.

Program tersebut bukan angka yang kaku. Fokus latihan dapat disesuaikan berdasarkan evaluasi perkembangan pemain.

Menang Penting, Tetapi Bukan Segalanya

Di sepak bola anak-anak, skor pertandingan sering menjadi pusat perhatian. Menang dianggap berhasil. Kalah dianggap gagal. Gaccha mencoba melihatnya dengan ukuran yang lebih panjang.

Kemampuan teknik, taktik dan permainan, fisik dan motorik, mental serta karakter sama-sama diperhatikan.

Seorang anak tidak hanya dinilai dari berapa gol yang dicetak. Keberanian bermain, kemampuan mengambil keputusan, kedisiplinan, kehadiran dan sikap juga menjadi bagian dari perkembangan pemain.

“Kemampuan sepak bola penting, tetapi karakter tidak boleh ditinggalkan. Kami ingin pemain disiplin, sportif, percaya diri, mau bekerja sama dan tetap rendah hati ketika menang.”

Nilai yang ditanamkan meliputi disiplin dan tanggung jawab, sportivitas dan kejujuran, kerja sama serta kepedulian terhadap rekan.

Pemain juga diajarkan menghormati pelatih, orang tua, lawan dan wasit. Menang tidak boleh membuat anak menjadi tinggi hati. Kalah juga tidak boleh membuatnya berhenti.

Pendekatan pelatih diarahkan menggunakan komunikasi positif. Bentakan, penghinaan atau tekanan yang tidak sesuai dengan usia anak tidak menjadi bagian dari pola pembinaan. Sebab yang dibentuk bukan hanya kaki. Tetapi juga cara berpikir dan cara bersikap. 

Dari Katapang Menuju Kompetisi

Gaccha tentu memiliki target besar. Akademi menargetkan dapat menghasilkan pemain yang mampu bersaing di tingkat regional dan nasional.

Kesempatan mengikuti kompetisi dan turnamen berkualitas juga ingin terus dibuka. Dalam jangka panjang, Gaccha ingin membuka akses bagi pemain potensial menuju seleksi klub profesional dan Elite Pro Academy.

Akademi juga menargetkan menjadi salah satu lembaga pembinaan usia muda yang diperhitungkan di Bandung Raya dan Jawa Barat.

Namun Gaccha tidak ingin menjual cerita keberhasilan yang belum ada. Akademi ini baru berdiri pada 6 Juni 2026.

Sampai saat ini belum terdapat data terkonfirmasi mengenai pemain binaan Gaccha yang telah diterima secara permanen di akademi klub profesional atau kompetisi elite.

Karena itu, pekerjaan besarnya sekarang justru membangun sistem. “Kami tentu ingin membuka jalan bagi pemain potensial menuju klub profesional atau Elite Pro Academy. Tetapi karena Gaccha baru berdiri, sekarang kami lebih fokus membangun sistem dan mencatat perkembangan pemain.”

Sikap tersebut membuat target profesional ditempatkan sebagai perjalanan, bukan janji instan.

Gaccha Player Passport

Salah satu rencana yang disiapkan adalah Gaccha Player Passport. Konsepnya adalah mencatat perkembangan pemain secara lebih sistematis.

Evaluasi pemain direncanakan setiap enam bulan. Statistik pertandingan dan video pemain akan disimpan.

Gaccha juga menargetkan pelaksanaan talent identification dua kali dalam setahun. Pemain yang dinilai memiliki potensi kemudian dapat diarahkan mengikuti seleksi akademi profesional.

Kerja sama dengan klub, akademi elite dan penyelenggara kompetisi resmi juga menjadi bagian dari target pengembangan.

Dengan sistem tersebut, perkembangan seorang pemain tidak hanya dilihat dari pertandingan terakhir. Ada rekam jejak. Ada data. Ada video. Ada evaluasi.

“Kami ingin perkembangan pemain tercatat. Jadi bukan hanya melihat pemain dari gol atau hasil pertandingan, tetapi melihat prosesnya dari waktu ke waktu.”

Itu menjadi penting karena perkembangan pemain usia dini tidak selalu berjalan lurus. Anak yang hari ini terlihat biasa saja bisa berkembang pesat beberapa bulan kemudian.

Sebaliknya, pemain yang sejak awal menonjol belum tentu otomatis menjadi pemain profesional.

Tantangan Terbesar Ada di Sekitar Anak

Menariknya, tantangan pembinaan sepak bola usia dini tidak selalu berada di lapangan. Kadang justru berada di pinggir lapangan. Ekspektasi orang tua bisa menjadi tekanan.

Keinginan menang terlalu cepat bisa membuat anak lupa bahwa mereka sebenarnya sedang belajar. Selain itu, setiap anak memiliki kemampuan dan kematangan fisik yang berbeda meskipun berada dalam kelompok usia yang sama.

Konsistensi kehadiran, kedisiplinan latihan, keterbatasan lapangan, waktu latihan dan biaya kompetisi juga menjadi tantangan.

Belum lagi kebutuhan terhadap pelatih yang memahami psikologi anak. Pertandingan yang sesuai dengan tingkat kemampuan pemain juga harus tersedia. Latihan yang terlalu monoton dapat membuat anak kehilangan motivasi.

Dan ada satu hal yang tidak boleh dikalahkan sepak bola: sekolah. Keseimbangan antara pendidikan, keluarga dan olahraga tetap harus dijaga.

Horyu menegaskan bahwa tujuan pembinaan Gaccha tidak berhenti pada kemampuan bermain sepak bola.

“Target kami bukan membuat anak hanya bagus bermain bola. Kami ingin sepak bola menjadi ruang bagi mereka untuk belajar disiplin, kerja sama, tanggung jawab dan percaya diri.”

Pada akhirnya, tidak semua anak yang masuk akademi akan menjadi pemain profesional. Itu kenyataan yang harus diterima. Tetapi latihan tetap tidak sia-sia. Anak belajar bekerja sama. Belajar disiplin. Belajar menghadapi tekanan. Belajar kalah. Belajar menang. Dan belajar menghargai orang lain.

Gaccha Football Academy masih sangat muda. Baru berdiri pada 6 Juni 2026. Jalannya masih panjang. Targetnya juga tidak kecil.

Tetapi dari Katapang, satu proses sudah dimulai: membangun pemain sepak bola sambil menjaga agar anak tetap menjadi anak.

Sebab sebelum menjadi pemain profesional, mereka terlebih dahulu harus tumbuh menjadi manusia yang punya karakter. (*)